Selasa, 14 April 2015

MEMBANGUN LEARNING TRAJECTORY DAN MENERAPKAN KE DALAM TEACHING TRAJECTORY OLEH DIAN IKAWATI RAHAYUNINGTYAS

MEMBANGUN LEARNING TRAJECTORY DAN
MENERAPKAN KE DALAM TEACHING TRAJECTORY
OLEH DIAN IKAWATI RAHAYUNINGTYAS

Mata Kuliah Pengembangan Learning Trajectory Pendidikan Dasar
Dosen Pengampu Prof. Dr. Marsigit, M. A.



 Learning Trajectory pada dasarnya adalah menjawab pertanyaan bagaimana siswa belajar dan juga mengandung pengertian bagaimana siswa berpikir. Setelah memahami keduanya, maka barulah bagaimana guru menyelenggarakan PBM (Proses Belajar Mengajar), yang biasanya disebut dengan Teaching Trajectory. Penjelasan yang disampaikan oleh Prof. Marsigit pada perkuliahan Pengembangan Learning Trajectory Pendidikan Dasar hari Rabu, 8 April 2015 adalah adanya hubungan antara Learning Trajectory (LT) dan Teaching Trajectory (TT) meskipun keduanya merupakan dua hal yang berbeda.
Dalam kehidupan manusia, kita hidup harus sesuai dengan keadaan (empan nggowo papan). Dalam filsafat berarti sesuai dengan ruang dan waktu. Manusia itu berbeda dengan komputer, apabila manusia itu pintar (bertambah ilmunya) maka tidak kerasa, sedangkan apabila komputer kita akan menambah atau mengurang isinya pastinya terlihat kapasitasnya. Oleh karena itu kita harus rajin belajar biar kita betambah ilmunya. Selain itu, kita juga harus senantiasa tawakal, tekun, sabar, dan rajin. Spiritual itu jalannya ke atas, sedangkan ke bawah ada material. Dalam menuju ke spiritual di dalamnya terdapat filsafat, paradigm, dan teori, sedangkan dalam menuju material terdapat pengalaman. Dokumen resmi itu dapat dikatakan formalnya, antara lain UU 1945, UU, PP, kurikulum, silabus, RPP, LKS, dan lain-lain yang kesemuanya disebut perangkat. Apabila dalam membelajarkan siswa seorang guru hanya berpatokan pada itu semua (perangkat pembelajaran) berarti guru tersebut masih berada dalam tahap pekerja “ tukang”. Sedangkan guru yang baik dan profesional harus mengetahui setiap tingkatan di atasnya yaitu sesuatu yang dapat dipercaya (akuntabel). Agar guru dapat dipercaya maka guru harus banyak belajar. Belajar dapat dilakukan di mana saja dan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan membaca, baik itu buku, bahan ajar, blog, jurnal, dan lain-lain. Untuk memperoleh makna atau arti dan dengan menggunakan metode atau epistimologi, akan tetapi tetap harus mengingat etik dan estetikanya. Makna arti itu selalu ada wadah dan isi. Wadah itu bisa berupa sintaks dan isinya dapat berupa kategori. Jadi makna itu arti. Selanjutnya adalah Siapakah dirimu? Dirimu adalah yang terlihat atau yang nampak (fisik) dan yang tidak terihat itu akal pikirnnya (isi). Jadi arti itu tergantung dengan wadahnya.
Sebenar-benar ilmu apapun harus sesuai dengan keadaan. Pendidikan dalam sekolah dasar tentunya berbeda dengan SMP. Untuk siswa sekolah dasar dalam membelajarkan sesuatu, khususnya matematika harus menggunakan matematika SD, tidak boleh disamakan dengan matematika SMP atau Perguruan tinggi. Seorang guru harus mempunyai banyak referensi untuk mebelajarkan kepada siswanya. Kemudian dari teori (referensi) itu diinteraksikan (tidak Cuma dibaca tetapi harus dipahami setiap makna yang ada di dalamnya). Guru harus memahami material siswanya. Dengan seperti ini, maka guru harus melakukan hermenitika hidup khususnya dalam bidang pendidikan. Setiap hermenitika di dalamnya terdapat banyak titik perkembangan dan setiap titik itu terdiri dari 3 hal yaitu rutin, penelitian, dan ikhtiar. Jadi sebenar-benarnya hidup adalah meneliti.
Ø  Rutin dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh sesorang secara terus menerus namun dalam melakukannya tidak ada perubahan yang terjadi. Misalnya apabila manusia melakukan kegiatan secara rutin tanpa mengetahui makna setiap kegiatannya sama saja manusia itu tidak belajar dan jika digambarkan dalam bentuk spiral maka dari depan sampai belakang bentuk dan ukurannya sama karena tidak terjadi perubahan.
Ø  Pengalaman dapat diartikan sebagai seseorang yang telah belajar sesuatu dan sudah mengetahui makna yang ada di dalamnya. Hal itu ditandai dengan semakin orang tersebut dapat berkonsentrasi terhadap sesuatu hal yang dipelajarinya. Dengan seperti itu, maka orang tersebut telah bertambah ilmunya dan apabila digambarkan dalam bentuk spiral maka dari depan kebelakang bentuknya semakin mengecil karena berarti orang tersebut semakin focus terhadap sesuatu yang dipelajarinya.
Ø  Ikhtiar dapat diartikan sebagai usaha yang dilakukan oleh seseorang yang menjadikan orang tersebut semakin maju dan berkembang dan mengalami perubahan untuk menjadi lebih baik dalam hidupnya. Ikhtiar dapat berisi doa yang dilakukan setiap waktu, dimanapun berada dan kapanpun waktunya. Apabila digambarkan dalam bentuk spiral maka bentknya dari kecil kemudian semakin lama semakin besar karena berkembang dan mengalami perubahan untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dari waktu ke waktu.
Seanjutnya, sebenar-benarnya hidup jika sesorang ingin bahagia baik di dunia maupun di akhirat kelak, maka penuhilah atau perbanyaklah berdoa dan berikhtiar. Dengan kita berdoa dan berikhtiar maka kita akan selalu mengingat Allah swt. Seperti halnya dengan teori belajar mengajar yang di dalamnya terdapat konteks pengalaman dan material yang nantiya dapat diwujudkan melalui Proses Belajar Mengajar (PBM). Proses Belajar Mengajar (PBM) merupakan hasil yang diperoleh guru dari kegiatan hermenitika yaitu cara membelajarkn siswa dengan mengetahui bagaiman siswa itu berpikir. Cara berpikir siswa dapat dibagi mejadi 3 bagian yaitu sikap, metode, dan isi (materi). Misalnya, apabila Proses Belajar Mengajar (PBM) matematika merupakan hermenitika, maka hasilnya adalah sikap, metode, dan materi (isi) matematika.
Kemudian, misalnya untuk mengetahui cara berikir siswa menggunakan Realistik Mathematik Education (RME), maka seorang guru harus mengerti dan memahami tentang teori Realistik Mathematik Education (RME) yaitu siswa berpikir dimulai dari konkret - model konkret – model formal – matematika formal. Sehingga jika akan membelajarkan sisa tentang penjumlahan, guru harus menggunakan benda-benda konkret, misalnya benda yang dekat dengan siswa dan diketahui oleh siswa misalnya dengan menggunakan buah apel. Contoh lain adalah guru yang mempelajari teori Bruner, yang didalamnya menyebutkan bahwa terdapat 3 tahap pembelajaran yaitu enactive, iconic, dan symbolic. Oleh karena itu dalam membelajarkan siswa dimulai dari tahap enakif (ada bendanya atau barangnya), misalnya apabila mengurkur  sesuatu maka harus ada benda yang diukur tidak hanya di dalam angan-angan saja. 
Dari beberapa penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam membangun Lerning Trajectory (LT) dan menerapkannya ke dalam Teaching Trajectory (TT) membutuhkan proses. Oleh karena itu membutuhkan hermenitika yaitu yang di dalamnya terdapat proses menerjemahkan dan diterjemahkan. Proses tersebut dimulai dari cara mendapatkan ilmu pengetahuan dan mengaplikasikannya dalam kegiatan pembelajaran. Selanjutnya adalah bagaimana cara untuk mendapatkan Learning Trajectory? Untuk mendapatkannya dapat diperoleh dari kita belajar dan banyak membaca serta dari pengalaman yang kita peroleh kemudian diaplikasikannya ke dalam Teaching Trajectory yaitu bagaimana cara mengajarkannya kepada siswa. Sehingga guru yang berkompeten itu adalah guru yang memiliki beberapa kompetensi seperti pengetahuan, sikap, keterampilan, pengalaman dari segi normatifnya. Selanjutnya kompetensi yang dimilki tersebut dapat dikembangkan melalui penelitian seperti PTK dan sejenisnya. Pada intinya seorang guru yang akanmembelajarkan siswa harus melalui poses (berproses) dan kreatif serta mempunyai inovasi-inovasi yang berguna utuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan pendidikan dan menghasilkan manusia yang bertaqwa, mandiri, dan cendekia. 

Jadikan Kelas Sebagai Taman yang Indah untuk Para Siswa





Pengembangan Learning Trajectory Pendidikan  Dasar, 1 April 2015


Oleh: Dian Ikawati Rahayuningtyas
NIM. 14712251006
Prodi Pendidikan Dasar KOnsentrasi Praktisi (Guru Kelas)
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M. A.



Ada 2 hal yang berkaitan dengan Bahasa yaitu sintaks dan sematik. Sintak merupakan wadah/ kerangka seperti pikiran, logika, dan lain-lain sedangkan sematik merupakan isinya yaitu makna yang ada di dalamnya yang peru untuk kita mengerti dan pahami.  Sematik adanya di bumi dan sintaks adanya di langit (yang terlihat). Selanjutnya sebenar-benarnya yang ada dalam diri manusia yaitu amal, perbuatan, pikiran, dan semua yang terlihat sama dengan wadahnya namun isinya sangat berbeda. Seperti misalnya kita tidak boleh berpura-pura untuk baik kepada orang lain, namun sebenarnya kalau di belakang dia kita membicarakan kejelekannya.
Pada kuliah Learning Trajectory Pendidikan Dasar, Prof. Marsigit selalu memberikan pengantar terlebih dahulu kepada mahasiswanya, tidak langsung menuju ke ilmu pengetahuannya. Beliau menjelaskan bahwa perlunya pengantar diberikan adalah untuk mempermudah belajar mahasiswa. Pengantar yang diberikan oleh Prof. Marsigit pada kuliah hari ini adalah pikiran mahasiswa bisa sebaiknya terbelah-belah yang tadinya keras (batu) kemudian pecah lagi menjadi kerikil, dari kerikil pecah lagi mejadi pasir sampai pada akhirya menjadi debu. Oleh karena itu selama kita hidup kita harus selalu belajar. Manusia yang behenti belajar merupakan mitos dan manusia yang sombong. Dimana sombong merupakan sifat tercela yang tidak dianjurkan oleh Allah swt. Karena dapat mrugikan diri sendiri maupun orang lain yang berada di sekitar. Manusia yang seperti itu biasanya banyak bicara tetapi tidak mau mendengarkan orang lain.
Prof. Marsigit sebagai dosen juga bertugas sebagai fasilitator untuk para mahasiswanya begitu pun juga guru harus dapat menjadi fasilitator untuk para siswanya sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Seorang guru yang bertugas sebagai fasilitator juga mempunyai dasar yaitu dari teori Vygotsky yang menampilkan ZPD (Zone of Proximal Development). Sedangkan ZPD dalam teori yang disebutkan oleh Ki Hajar Dewantara sama dengan Ing Madya Mangun Karsa. Guru harus dapat mengetahui dan memahami karakteristik setiap siswanya agar dapat memenuhi kebutuhan siswa. Oleh karena itu guru juga tidak ada salahnya untuk belajar tentang teori-teori belajar karena dengan belajar teori belajar dapat membantu guru dalam pelaksanaan belajar mengajar di dalam kelas. Selain it
u, berkaitan dengan referensi yang disajikan antara yang satu dengan lainnya saling berhubungan. Mialnya saja Problem  Based Learing berkaitan dengan kontruktivisme. Oleh karena itu, referensi yang ditampilkan dapat sebagai dasar tugas yang harus dibaca dan dipahami dengan baik agar konsepnya dapat tersampaikan kepada orag lain dengan baik pula.
Dalam perkuliahan Learning Trajectory Prof. Marsigit meberikan tugas kepada mahasiswanya. Hal itu merupakan sintaks (wadah) dan aktivitas di dalamya seperti membuat refleksi, komentar blog, dan lain-lain merupakan sematiknya. Tuhuan tugas itu diberikan adalah agar para mahsiswa dapat belajar mengenai teori-teori belajar yang nantinya dapat diterapkan apabila menjadi seorang guru atau dosen di masa yang akan datang. Beliau selalu mengatakan bahwa sebagai manusia harus selalu belajar, belajar, dan belajar. Belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.
Dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru di sekolah guru tidak boleh menjadikan siswa sebagai subjek saja, namun guru harus dapat membantu siswa untuk dapat menemukan konsep-konsep yang dibangunnya sendiri. Apabila diibaratkan seperti menggenggam bola. Biarkan bola itu berada dalam genggaman siswa dan biarkan siswa untuk mengekspresikannya sesuai dengan kondisi siswanya, biarkan mereka untuk berkreasi dan janganlah halangi mereka untuk selalu berkreasi. Bola itu sebagai merupakan fasilitas yang diberikan oleh guru dan siswa diminta untuk memanfaatkannya ssuai engan kebutuhannnya.
Belajar harus dilakukan secara continue atau berkelanjutan agar lebih terasa manfaatnya. Di antara shalah subuh dan dhuhur manusia harus selalu berdoa, paling tidak berdzikir kepada Allah, jangan sampai berhenti berdoa. Begitu juga dalam belajar, janganlah kamu berhenti belajar karena itu akan membuat para syaitan agan berbahagian karena berhasil menggoda dan mengganggu kita. Kita sudah berusaha dan berdoa sesuai dengan kemampuan yang kita miliki, namun segala sesuatu yang terjadi merupakan atas izin/ kehendak Allah swt. Semua yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik pula di mata Allah swt. Allah swt lenih mengetahui apa yang kita butuhkan dari pada apa yang kita minta. Sebagai calon pendidik, kita harus dapat berusaha untuk menjadikan kondisi kelas sebagai tamaan buat siswa-siswa kita kelak, si mana siswa dan siswi kia kelak akan sellu betah apabila berada dekat dengan kita. Janganlah membuat kelas mejadi penjara bagi mereka, karena akan sangat membuat guru ataupun siswanya menjadi kurang bersemangat. Untuk mewujudkan itu semua, kembali lagi kepada gurunya masing-masing. Guru harus selalu beroikir kreatif dan inovativ demi kemajuan dan perkembangan dan kemanjuan pendidikan di Indonesia.

Referensi:

Pembelajaran Matematika di Sebuah SD di Jepang Melalui VTR (Video Tape Recorder



Pengembangan Learning Trajectory Pendidikan  Dasar, 25 Maret 2015

Oleh: Dian Ikawati Rahayuningtyas
NIM. 14712251006
Program Studi Pendidikan Dasar
Konsentrasi Praktisi (Guru Kelas)
Dosen Pengampu. Prof. Dr. Marsigit, M. A.


Hari Rabu, 25 Maret 2015 kegiatan perkuliahan Learning Trajectory Pendidikan Dasar berlangsung tidak seperti biasanya. Pada hari itu Prof. Marsigit menayangkan sebuah video pembelajaran matematika pada sebuah SD di Jepang. Dalam video tersebut menampilkan kegiatan pembelajaran yang berbeda jika dibandingkan dengan kegiatan pembelajaran di Indonesia. Video tersebut menyajikan pembelajaran yang dilakukan secara tim (kolaborasi) antara dua orang guru. Kegiatan pembelajaran yang berlangsung pada video tersebut adalah pembelajaran matematika dan materi yag dipelajari adalah perkalian. Kami para mahasiswa disuruh untuk menonton video tersebut kemudian Prof. Marsigit menyuruh kita untuk menanggapi video tersebut, Prof. Marsigit memberikan beberapa soal untuk dijawab (tanggapan mahasiswa) antara lain: 1) Tanggapan PBM berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya, 2) Pertanyaan yang muncul dari pikiran saya, 3) Identifikasi pembelajaran, 4) Dengan mengambil sisi baikdari PBM tersebt, berikut adalah usaha saya untuk mengembangkan PBM sejenis sesuai dengan konteks budaya lohal saya (Jawa-Indonesia). Berikut ini tanggapan saya tentang video “Studi Banding PBM Matematika Di Sebuah SD di Jepang Melalui VTR (Video Tae Recorder)”

I.            Tanggapan PBM berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya
Pembelajaran matematika yang dilakukan pada video tersebut cukup menarik. Kegiatan pembelajaran dilakukan oleh dua orang guru yang saling berkolaborasi, di mana guru yang satu berperan untuk menjelaskan kepada siswa dan guru yang satunya lagi mengamati kegiatan siswa di kelas. Pada awalnya guru memberikan pejelasan sebentar (kemungkinan pada pertemuan sebelumya guru sudah memberikan pejelasan tentang materi perkalian) dengan menggunakan media berupa tabel perkalian, kemudian guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau menyampaikan pendapat. Setelah itu, guru memberikan soal LKS untuk dikerjakan secara individu. Dalam kegiatan ini terlihat juga ada siswa yang memberikan bantuannya (membimbing) kepada teman lainnya yang mengalami kesulitan. Setelah selesai mengerjakan, guru memberikan soal lagi yang dikerjakan secara berkelompok (setiap kelompok terdiri dari 4 siswa). Pada kegiatan diskusi tersebut, antara guru dan siswa kedudukannya terlihat sama (guru tidak berdiri pada saat membimbing siswa (jongkok)), guru membimbing dan memfasilitasi siswa tanpa digurui dan menggurui. Setelah itu guru memberikan LKS yang lebih besar lagi dan jumlah tiap-tiap anggota kelompok ditambah menjadi sekitar 5-6 siswa. Pada kegitan tersebut terlihat sebagian siswa tampak antusias untuk mengerjakan LKS. Setelah selesai mengerjakan LKS kemudian guru menempelkan hasil diskusi para siswa di papan tulis dan menyuruh perwakilan siswa pada tiap kelompoknya untuk menjelaskan hasil diskusnya di depan kelas dan hasilnya pun sangat menarik, ternyata setiap kelompok dapat menemukan konsep matematika yang bermacam-macam, misalnya keistimewaan perkalian 9, perkalian di mana hasilnya sama apabila dihitung menggunakan logika (2 x 3 = 6 dengan 3 x 2 = 6), perkalian dengan bilanag kuadrat, perkalian penjumlahahan berulang. Dan lain-lain. Siswa yang menyampaikan hasilnya di depan juga melakukan Tanya jawab dengan anggota kelompok lain yang ingin bertanya dan Tanya jawab dengan guru yang mengajar di kelas terebut. Misalnya guru tersebut memberikan pertanyaan seputar hasil diskusi mereka dan siswa yang di depan menjelaskan kepada gurunya. Kegiatan tersebut berlangsung cukup lama, banyak siswa lain yang juga ikut serta aktif bertaya kepada temannya yang menyampaikan hasil diskusinya di depan. Selama proses beajar mengajar berlangsung juga terlihat antara guru yang berkolaborasi meakukan diskusi mengenai permasalahan yang muncul pada saat proses belajar di kelas kemudian mereka mencari solusi dari masalah yang muncul tersebut. Meskipun masih terlihat meggunakan metode teacher center, namun siswa di dalam kelas tersebut terlihat aktif dalam kegiatan pembelajaran.
II.         Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari pikiran saya
1.      Bagaimana cara memotivasi siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas?
2.      Bagaimana cara membimbing siswa sehingga siswa dapat mencapai HOT?
III.      Identifikasi pembelajaran
Ø  Kelas                              : 3 (tiga)
Ø  Tujuan pembelajaran    : mengetahui dan menemukan sifat-sifat dalam operasi hitungan perkalian
Ø  Metode                          : Dikusi, tanya jawab, penugasan
Ø  Jumlah siswa                  : ± 25 siswa
Ø  Media pembelajaran       : Tabel perkalian


Setelah selesai, Prof. Marsigit menyuruh kita untuk mempresentasikan hasil jawaban kami di depan kelas. Kami mempresentasikan hasil jawaban kami hanya sampai pada rum III, untuk jawaban rum 4 kami disuruh mengerjakan di rumah yang kemudian diupload di blog masing-masing.

Senin, 30 Maret 2015

Learning Trajectory Primary Education

Permainan Engklek Matematika Sebagai Media untuk Penguatan Konsep
pada Materi Bangun Datar Mata Pelajaran Matematika SD 

A.       Permainan Engklek
Engklek merupakan permainan tradisional lompat-lompatan pada bidang-bidang datar yang digambar di atas tanah atau pelataran. Permainan ini berbentuk petak-petak yang pada ujungnya mempunyai gundukan seperti gunung. Untuk memainkannya, pemain harus meloncat dengan menggunakan satu kaki dari petak satu ke petak berikutnya. Seorang pemain memegang sebuah gaco untuk dilemparkan ke masing-masing petak dan kemudian pemain melakukan lompatan ke dalam petak-petak tersebut. Setelah melompat ke semua petak pemain mengambil gaco tersebut kemudian dilemparkan lagi ke petak selanjutnya. Tetapi, dalam melempar gaco Tidak boleh melebihi batas petak yang telah disediakan. Jika pemain melebihi batas petak yang disediakan maka pemain dinyatakan gugur dan diganti oleh pemain lainnya. Pemain yang berhasil menyelesaikan keseluruhan engklek terlebih dahulu maka dinyatakan sebagai pemenang.

B.       Engklek Matematika
Engklek Matematika adalah sebuah alat pembelajaran matematika yang disajikan menyerupai bentuk permainan engklek. Permainan engklek ini dilengkapi dengan kartu-kartu kerja yang berbentuk kartu-kartu soal dan mempunyai aturan yang jelas sehingga permainan ini dapat dijalankan. Permainan ini dapat digunakan dalam proses penanaman konsep, namun akan lebih fungsional jika digunakan dalam proses penguatan konsep. Kartu kerja berisi soal-soal yang disesuaikan dengan materi yang telah diberikan dan akan diuji dengan tujuan agar dapat mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap konsep yang sudah diberikan. Soal-soal yang disajikan mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda berbeda. Mulai dari yang mudah, sedang dan sulit dengan skor yang berbeda pula. Dalam permainan ini para pemain harus menjawab soal-soal yang ada pada kartu pertanyaan yang diperoleh selama bermain.

C.       Sistem Permainan Engklek Matematika
Dalam permainan engklek matematika dibutuhkan beberapa komponen agar permainan dapat berjalan dengan baik, komponen tersebut meliputi:
1.        Alat permainan : Serangkaian alat yang diperlukan dalam permainan engklek sehingga dapat berjalan adalah sebagai berikut :
a.         Petak engklek
Petak engklek ini sama dengan petak engklek yang biasa digunakan anak-anak bermain engklek. Petak engklek ini dapat dibuat dengan menggambar menggunakan kapur tulis atau batu bata jika permainannya dilakukan di pelataran. Tetapi, secara tradisional biasanya petak engklek dibuat dengan menggambar di tanah menggunakan kayu atau ranting pohon.
b.        Gaco
Gaco adalah bagian dari alat permainan engklek, yang digunakan untuk dilemparkan ke masing-masing petak supaya pemain dapat memainkan engklek tersebut.
c.         Kartu soal
Kartu soal disajikan dalam berbagai tingkat kesulitan yang berbeda. Sebagai contoh misalnya pada petak 1 dan petak 2 mewakili pertanyaan kategori mudah dengan skor 10. Petak 3, petak 4 ,dan petak 5 mewakili pertanyaan kategori sedang dengan skor 15. Petak 6, petak 7 ,dan petak 8 mewakili pertanyaan kategori sulit dengan skor 20. Kartu soal dibuat dalam kertas warna yang berbeda-beda untuk mengetahui identitas kelompok masing-masing. Soal-soal yang disajikan dalam kartu soal harus dilengkapi dengan kunci jawaban dan cara penyelesaiannya. Hal ini bertujuan agar siswa mengetahui apakah kawaban mereka sesuai dengan jawaban sebenarnya dari soal itu. Dan jika tidak, mereka akan tahu bagaimana cara penyelesaian yang benar sehingga jawabannya sesuai. Warna kunci jawaban ini harus sama dengan warna dari kartu soal.
d.        Lembar Skor
Papan skor digunakan untuk mencatat nilai-nilai yang diperoleh oleh pemain selama bermain. Dalam hal ini adalah nilai yang diperoleh dari kegiatan menjawab soal. Format papan skor permainan engklek matematika sebagai berikut :
Nama Kelompok            :
No                                  :
Nama Anggota              :
Nilai                               :
Total Nilai                      :
Kesempatan 1                :
Kesempatan 2                :
Kesempatan 3                :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Total nilai kelompok

Keterangan :
Ø Nomor : Kolom yang menunjukkan urutan pemain dalam suatu kelompok
Ø Nama Anggota : Kolom ini diisi nama-nama anggota kelompok yang sesuai dengan nomor urutan pemain dalam kelompok tersebut
Ø Nilai
1.    Kesempatan 1 : Kolom ini diisi nilai yang diperoleh siswa setelah bermain dan mengerjakan soal pada kesempatan pertama.
2.    Kesempatan 2 : Kolom ini diisi nilai yang diperoleh siswa setelah bermain dan mengerjakan soal pada kesempatan kedua.
3.    Kesempatan 3 : Kolom ini diisi nilai yang diperoleh siswa setelah bermain dan mengerjakan soal pada kesempatan ketiga.
4.    Total Nilai : Kolom ini diisi nilai keseluruhan setiap siswa yang diperoleh dari nilai pada kesempatan 1, kesempatan 2, dan kesempatan 3 untuk mengetahui nilai individu.
5.    Total Nilai Kelompok : Baris ini diisi dengan keseluruhan nilai dari total nilai semua anggota kelompok tersebut untuk mengetahui nilai kelompok.
2.        Pemain : Pelaku permainan.
Pemain dalam permainan tergantung pada pola dan pengorganisasian permainan. Pemain adalah seorang individu siswa, jika permainan disajikan dalam permainan individu. Dan pemain kelompok adalah sebuah tim yang terdiri dari beberapa orang yang saling bekerja sama, jika pola permainan yang diberikan berbentuk permainan kelompok
3.        Waktu Permainan
Waktu permainan adalah waktu yang disediakan untuk melaksanakan permainan. Waktu permainan harus direncanakan dan diperhitungkan dalam suatu permainan. Pengaturan waktu permainan bertujuan agar setiap pemain mempunyai kesempatan yang sama dalam bermain. Waktu yang dibutuhkan pemain dalam menyelesaikan soal pertanyaan haruslah dikondisikan. Sebagai misal waktu yang diberikan untuk pertanyaan kategori mudah (kartu pada petak 1 dan 2) = 2 menit, pertanyaan sedang (kartu pada petak 3, 4, dan 5) = 3 menit, pertanyaan sulit (kartu pada petak 6, 7, dan 8) = 5 menit.
4.        Aturan Permainan
Merupakan promotor dalam suatu permainan, oleh karena itu aturan permainan harus jelas dan tegas agar permainan dapat berjalan dengan baik.
a.         Satu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Kemudian kelompok-kelompok tersebut diberi nama sebagai identitas, misalnya : kelompok merah, kelompok hijau, dan sebagainya.
b.        Guru menjelaskan materi bidang datar (penguatan konsep).
c.         Siswa diberikan waktu 20 menit untuk mempelajari kembali materi bidang datar yang diberikan secara berkelompok. Siswa yang belum paham berhak bertanya kepada kelompoknya sedangkan teman sekelompoknya yang lebih paham wajib menjelaskan kepada teman lain yang belum paham.
d.        Satu set peta engklek akan dimainkan oleh 2 kelompok yang bersaing untuk mendapatkan skor.
e.         Untuk menentukan urutan bermain dalam satu anggota kelompok tersebut maka ditentukan dengan kartu undian.
f.         Kelompok yang mendapat giliran pertama bermain, maka yang memainkan adalah anggota yang mendapatkan undian ke-1 dalam kelompok tersebut. Sedangkan anggota dari kelompok lawan yang mendapat undian ke-1 bertugas membawa stopwatch, kartu jawaban, dan mencatat skor dari anggota yang bermain tersebut.
g.        Anggota kelompok yang mendapat giliran pertama bermain maka dia harus melemparkan gaco pada petak nomor 1. Kemudian memainkan engkleknya untuk mendapatkan kartu soal dengan warna yang sesuai dengan nama kelompoknya pada petak yang ditempati oleh gaco tersebut.
h.        Setelah mendapatkan soal dan sudah menyelesaikan permainan engklek, maka anggota yang mendapat undian ke-1 tersebut harus mengerjakan soal untuk mendapatkan skor.sedagkan anggota kelompok lawan yang membawa stopwatch bertugas mengawasi waktu sesuai yang telah ditetapkan.
i.          Apabila soal sudah diselesaikan maka harus diserahkan kepada anggota kelompok lawan yang membawa stopwatch untuk dikoreksi sesuai dengan lembar jawaban dan dilakukan penyekoran.
j.          Anggota kelompok yang sudah bermain maka dia akan berpindah diurutan paling belakang dalam kelompoknya. Kemudian anggota yang mendapat undian ke-2 yang bermain dan seterusnya dengan sistem bergiliran secara berputar.
k.        Setelah semua anggota dalam suatu kelompok mendapatkan tiga kali kesempatan bermain maka permainan dalam kelompok tersebut dianggap selesai.
l.          Jika semua kelompok sudah menyelesaikan permainan engklek maka lembar skor akan dikembalikan ke masing-masing kelompok yang memiliki skor tersebut. Kemudian juru tulis masing-masing kelompok menuliskan skor yang didapat ke papan tulis.

v   Referensi
1. Marsigit. (2015). Referensi Berbagai Teori Belajar dan Mengajar. http://powermathematics.blogspot.com/2015/03/referensi-berbagai-teori-belajar-dan.html. Diakses pada tanggal 30 Maret 2015.
2.      https://matematikaikipbu.wordpress.com/2009/09/29/permainan/. Diakses pada tanggal 30 Maret 2015


Oleh: Dian Ikawati Rahayuningtyas
NIM: 14712251006
Jurusan Pendidikan Dasar Konsentrasi Praktisi (Guru Kelas)
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M. A.

Selasa, 17 Maret 2015

Melihat Dunia Secara Utuh Melalui Ruang dan Waktu

Refleksi Kuliah Pertemuan ke-4
Pengembangan Learning Trajectory Pendidikan  Dasar, 11 Maret 2015


Pada dasarnya manusia hidup di dunia adalah untuk belajar, belajar, dan belajar. Belajar sudah dimulai sejak manusia berada di dalam kandungan. Dengan belajar maka kita akan mengetahui banyak hal, baik yag terlihat maupun yang tidak terlihat. Apabila manusia tidak mau belajar padahal sesungguhnya dia mampu, diibaratkan sebagai batu yang besar (keras namun tidak ada isinya). Namun, seiring berjalannya waktu manusia akan belajar karena dengan belajar manusia akan dapat meraih apa yang diinginkan. Jadi jika diibaratkan dengan batu yang besar dan keras tadi, batu tersebut lama-kelamaan akan pecah menjadi pecahan batu kemudian jika terus diasah, maka pecahan batu tersebut akan pecah lagi dan menjadi kerikil-kerikil dan akan terus pecah menjadi pasir, yang kemudian akan menjadi air. Air tersebut diletakan di dalam suatu wadah kemudian wadah tersebut diisi air yang banyak lagi sampai penuh dan tumpah airnya, yang lama-kelamaan air tersebut menjadi banyak sekali sehingga sampai membentuk lautan dan mengalir terus sampai menembus gunung. Wadah tersebut diibaratkan sebagai otak kita dan air diibaratkan sebagai ilmu, sehingga apabila otak kita setiap hari diisi ilmu yang didapat melalui proses elajar dan pengalaman, maka otak kita akan penuh dengan ilmu-ilmu yang nantinya dapat kita gunakan untuk mencapai tujuan hidup kita.
Orang yang sukses adalah orang yang mampu menembus ruang dan waktu dalam rangka membangun hidup (hermenitika). Kemudian, sebenar-benarnya orang yang berilmu adalah sopan dan santun, maksudnya sopan dan santun terhadap ruang dan waktu dan mampu memposisikan dirinya terhadap ruang dan waktu yang tepat dan sesuai dengan kedudukannya sebagai manusia. Prof. Marsigit menyampaikan dalam kuliah Learning Trajectory kali ini bahwa, mana mungkin kita sebagai manusia dapat sopan dan santun terhadap Learning Trajectory jika kita belum mengetahui dan memahami apa itu Learning Trajectory. Sopan dan santun itulah merupakan salah satu metode untuk menghadapi tantangan yang ada termasuk krisis multi dimensi dan krisis bangsa.
Setinggi-tingginya suatu ilmu adalah mampu membedakan. Misalnya, jika seorang guru yang berilmu maka guru tersebut mampu mebedakan semua siswanya. Jika siswa tersebut berjumlah 30, maka guru tersebut harus dapat membedakan ke 30 siswa tersebut dengan mengetahui dan memahami setiap karakter yang dimilki oleh setiap siswa. Guru harus mampu membelajarkan berbagai ilmu dan pengetahuan kepada siswa sebagai bekal untuk kehidupan pada masa depan. Selain itu, guru juga bertugas sebagai fasilitator  bagi para siswanya, sehingga sebagai guru hendaknya mampu menyesuaikan dan melaksanakan proses belajar mengajar serta melatih siswa untuk membangun hidup (hermenitika). Dalam pembelajaran matematika di SD, guru harus membelajarkan siswa dengan memulai dari benda-benda yang konkrit terlebih dahulu, karena pada siswa usia sekolah dasar masih berada pada tahap operasional konkrit. Misalnya dalam membelajarkan penjumlahan kepada siswa guru menggunakan 2 buah kapur + 2 buah kapur kemudian siswa diminta untuk menghitung jumlah kapur tersebut, bahkan siswa diperbolehkan untuk memegang kapur tersebut dan menghitung langsung kapur yang jika dijumlahkan sehingga menjadi 4 buah kapur. Apabila siswa sudah dapat menghitung dengan menggunakan benda-benda konkrit, guru baru menuliskannya ke dalam angka (2 + 2 = 4) sehingga guru membantu siswa untuk dapat menentukan konsepnya sendiri. Kita dapat belajar berpikir dari objek material, formal, normative dan tertinggi adalah spiritual. Oleh karena itu, kita harus selalu berdoa dan mengingat Allah di mana pun kita berada, bahkan dalam segala macam kondisi apapun agar senantiasa kita berada dalam lindungan Allah swt.
Selanjutnya, dengan kita belajar tentang filsafat maka kita juga mempelajari semua yang Ada pada Learnig Trajectory. Semua yang ada itu bersifat tetap (tidak berubah). Ada yang bersifat tetap itu terletak di (atas) langit dan Ada yang bersifat tidak tetap itu terletak di (bawah) bumi. Pikiran berhemenitika dengan fakta/ pengalaman. Teori berhemenitka dengan praktik. Formal berhemenitika dengan material. Orang dewasa berhemenitika dengan anak-anak.Aksioma berhemenitika dengan contoh. Semua yang berada di atas (langit) dan di bumi (bawah) semua saling berhemenitika. Apa yang ada di dalam pikiran kita harus dicocokkan dengan tindakan yang kita lakukan, begitu pula dengan apa yang akan dilakukan oleh kita harus dipikirkan terlebih dahulu.


                                  Gambar Membangun Dunia versi Prof. Dr. Marsigit, M. A.

Kedudukan paling tinggi adalah Firman Tuhan, sedangkan aksioma/ aturan adalah ilmunya para dewa. Logika merupakan apriori sedangkan pengalaman merupakan aposteriori. Logika yang ada dalam pikiran bersifat Analitik (berdasar ketentuan) sedangkan pengalaman yang ada dalam fakta/tindakan bersifat sintetik (berdasar sebab-akibat). Selanjutnya, lahirlah teori Imanuel Kant yang menyatakan bahwa untuk menjadi ilmu pengetahuan maka harus ada pengalaman dan logika, harus Sintetik dan Apriori, sehingga apabila hanya Sintetik-Aposteriori maka tidak akan mampu tidak memperoleh apa-apa. Dengan demikian, ilmu itu harus Amaliah dan Ilmiah. Namun, seiring perkembangan waktu lahirlah pandangan dari Auguste Comte yang menolak adanya filsafat dan menganggap bahwa agama itu tidak penting. Auguste Comte memaparkan paham yang disebut paham “Positivism”. Di mana paham tersebut memposisikan agama berada paling bawah dan dia membuat kemajuan sekaligus kehancuran suatu bangsa, karena dalam pahamnya Auguste Comte menyebutkan bahwa apabila suatu bangsa ingin maju maka harus menggunakan metode Scientific. Langkah-langkah dalam metode Scientific antara lain: 1) mengamati, 2) menanya, 3) menalar/ mengasosiasi, 4) mencoba (eksperimen), 5) dan mengkomuniksikan/ mempresentasi/ mencipta. Sehingga para pendidik harus dapat mengubah paradigm tersebut. Guru sebaiknya menyadari bahwa apabila siswa dikasih pertanyaan dan siswa tersebut menjawabnya salah berarti siswa tersebut sedang belajar, dan itulah sebenarnya. Guru tidak boleh mengharuskan siswa untuk menjawab pertanyaan dengan benar.
Apabila kita mempelajari Learning Trajectory dengan benar, maka kita mampu menerapkannya pada saat proses belajar mengajar di sekolah, karena Learning Trajectory merupakan bagaimanan cara siswa berpikir dan belajar. Selain itu, juga ada Learning Trajectory Timeline yang meliputi hakekat/makna serta sejarahnya. Struktur ketentuan Learning Trajectory meliputi filsafat, ideologi, UUD 1945, UU, Peraturan Presiden, Peraturan Menteri, Peraturan Pemerintah, Kurikulum, Silabus, RPP, LKS (Lembar Kegiatan Siswa), Sekolah, Guru, Siswa, Mata Pelajaran, PBM. Sebagai mahasiswa seharusnya sudah menyadari manfaat mempelajari filsafat yaitu sebagai pondasi dalam mempelajari Learning Trajectory, oleh karena itu mahasiswa harus sering membaca dan mencari sumber/referensi tentang Learning Trajectory sehingga mahasiswa akan dapat memahami Learning Trajectory dan dapat menerapkannya pada kehidupannya. Mempelajari Learning Trajectory berarti membangun pengetahuan siswa, sesuai dengan Taksoomi Bloom yaitu mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesiskan, dan mengevaluasi sehingga siswa dapat mengoptimalkan cara berpikir dan belajarnya sampai High Order Thinking. 
Sebenarnya dunia ini bersifat jamak.plural. misalnya orang yang tadinya lapar akan menjadi kenyang setelah dia makan, tadi malam sudah berencana untuk pergi ke sekolah besok paginya, namun karena pada pagi harinya sakit mendadak sehingga tidak jadi berangkat ke sekolah. Dunia bersifat plural karena adanya kontradiksi. Apabila tidak ada kontradiksi, maka tidak akan ada hidup.


Oleh: Dian Ikawati Rahayuningtyas
          NIM. 14712251006
          Prodi Pendidikan Dasar 
          Konsentrasi Prakisi (Guru Kelas)
          Dosen Pengampu Prof. Dr. Marsigit, M. A.